Mengenal Sejarah Candi Singosari, Peninggalan Terakhir Kerajaan Singosasi

Sejarah Candi Singosari tidak lepas dari Raja Terakhir Singosari, Kertanegara.

Candi singosari yang saat ini terletak di dekat kota Malang propinsi Jawa Timur dipercaya sebagai penghormatan terakhir untuk raja terakhir dinasti singosari, Raja Kertanegara.

Sejarah di tanah Jawa menyebutkan bahwa Raja Kertanegara dikuburkan di Singosari pada tahun 1295, 3 tahun setelah kematiannya, dan dipuja sebagai Siwa-Budha.

Sejarah Candi Singosari dan Akhir Hidup Kertarajasa

Ada pendapat yang berbeda mengenai terbunuhnya Raja Kertanegara. Yang paling umum adalah Kertanegara diyakini dibunuh oleh Jayakatwang dari gelang-gelang dalam perang pembrontakan. Pendapat lain mengatakan Raja Kertanegara diyakini dibunuh oleh Jayakatwang selama ritual Tantra atau pesta seks Tantra.

Patungnya yang didewakan adalah Bhairava, berbentuk setan Siwa, yang digambarkan berdiri di atas alas tengkorak, mengenakan rantai tengkorak di sekitar tubuhnya yang telanjang dan mahkota tengkorak di kepalanya. Arca raja Kertanegara yang didewakan ini hilang dari ceruk pusat candi di Candi Singhasari dan sekarang berdiri di Rijksmuseum voor Volkenkunde di Leiden.

Patung Birawa
Patung Birawa, Wujud Setan/Iblis dari Siwa.

Bhairava adalah bentuk menakutkan dari Siwa. Patung itu melambangkan pada para penyembahnya sebagai penghancuran kebodohan dan pembebasan spiritual. Shiva/Siwa bersama dengan serigala berdiri di atas alas yang dikelilingi oleh tengkorak. Sifat iblisnya diwakili oleh rambut keritingnya yang liar, mulutnya yang terbuka; dan tengkorak di mahkotanya, anting-anting dan rantainya.

Durga
Durga melawan setan

Durga sebagai manifestasi Parwati, permaisuri Siwa, awalnya berdiri di ceruk utara Candi Singhasari (Singosari) dan di sini ia ditampilkan seakan-akan sedang melawan setan. Keahlian dalam membuat arca di atas membuatnya menjadi yang terbaik dari seluruh patung Singosari.

Penemuan Candi

Candi Singosari ditemukan di awal abad ke 18 Masehi (sekitar tahun 1800-1850) oleh seorang belanda bernama Nicolaus Engelhard yang saat itu sedang menjabat sebagai Gubernur Pantai Timut Laut Jawa dan berkedudukan di Semarang.

Sebelum menemukan Candi Singosari Nicolaus sedang berkunjung ke pemimpin keraton Jogjakarta dan Surakarta untuk kemudian mengunjungi beberapa candi di daerah sana yaitu Candi Sari, Candi Prambanan dan Candi Kalasan di tahun 1802. Setelah ia melakukan perjalanan darat ke daerah Malang dan menemukan reruntuhan bangunan yang akhirnya terkenal dengan nama Candi Singosari.

Pada Tahun 1804 Nicolaus sempat memerintahkan agar arca-arca di angkut ke Belanda. Pelaksanaan perintah tersebut baru terlaksana di tahun 1819. Pengiriman arca-arca ini ditujukan waktu itu untuk museum di belanda dan raja kerajaan Belanda.

Sebagian arca tersebut menjadi koleksi museum Leiden di Belanda, dan sebagian diberikan kepada Nicolaus sebagai hadiah dari Kerajaan Belanda sebagai koleksi pribadi di kediamannya di Semarang.

Thomas Stamford Raffles sempat berkunjung ke candi tersebut pada saat Inggris mengusai Hindia Belanda di tahun 1811-1816. Raffles berkunjung ke Malang berdasarkan referensi buku yang ditulis oleh Nicolaus, berjudul The History of Java.

Berdasarkan buku The History of Java disebutkan Candi Singosari berada di tengah hutan jati, dan pembabatan hutan di sekitar wilayah candi baru dilakukan pada tahun 1820.

Struktur Candi

sejarah candi singosari
Candi Singosari

Luas area

200 x 400 meter persegi. Berdiri di sana bersama candi-candi lainnya.
Disebut sebagai: Candi Cungkup atau Candi Menara (Candi Singasari adalah candi yang tertinggi pada masanya dibandingkan candi lainnya), sayangnya candi lainnya tidak lagi diketahui bekasnya.

Bangunan utama

Bangunan utama dibuat dari batu andesit, menghadap ke barat.

Alas candi

Beralaskan bujur sangkar berukuran 14 m × 14 m dan tinggi candi yang saat ini tersisa 14,1 m.

Tubuh candi

Berdiri di atas batur kaki setinggi 1,5 m

Tangga naik

Tangga ke selasar di kaki candi tidak diapit oleh pipi tangga dengan hiasan makara.

Candi Singosari dibagi menjadi 2 bagian, yaitu:
1. Sivaitic: bagian candi sebelah bawah
2. Buddhistic: bagian candi sebelah atas.
Pembagian ini disebabkan karena semasa hidupnya Raja Kertanegara sangat bangga dengan menghormati Dewa Hindu Shiva/Siwa sebagaimana menghormati Budha.

Para arkeolog menginformasikan bahwa keraton (istana) kerajaan Singhasari pernah terletak di sekitarnya, dan sebuah pemukiman kuno besar tersebar di sekitarnya. Pada masa kejayaannya kawasan ini akan menjadi rumah bagi setidaknya 8 candi dan alun-alun kota serta pintu gerbang, halaman dan paviliun dari Kerajaan Singosari itu sendiri. Ini adalah pusat saraf kerajaan yang memiliki pengikut hingga Kalimantan dan Maluku (Kepulauan Rempah), dan pada puncaknya bahkan menarik perhatian Kubilai Khan, penguasa Dinasti Yuan di Cina. Namun yang tersisa dari kompleks kerajaan ini sekarang adalah Candi Singhasari dan beberapa patung Dwarapala (penjaga kurcaci) raksasa. Meski demikian, rasa keagungan yang sirna ini menjadi salah satu daya tarik Candi Singosari.

Fungsi Candi

Candi Singosari berdasarkan informasi yang tersebut dalam puisi Jawa Nagarakretagama & Prasasti Gajah Mada tertanggal 1351, yang ditemukan di halaman candi adalah sebagai kuil pemakaman Raja Kertanagara yang memerintah 1268 — 1292 (raja terakhir Kerajaan Singosari).